Minggu, 04 November 2012

SERIAL LIPUTAN KELENTENG: KUNJUNGAN KE KELENTENG HOK AN BIO (福安廟 Mandarin: Fuan Miao), GUBUG, KABUPATEN GROBOGAN, JAWA TENGAH

SERIAL LIPUTAN KELENTENG: KUNJUNGAN KE KELENTENG HOK AN BIO (福安廟 Mandarin: Fuan Miao), GUBUG, KABUPATEN GROBOGAN, JAWA TENGAH

Ivan Taniputera
4 November 2012

Pada hari ini saya mengunjungi Kelenteng Hok An Bio (福安廟, Mandarin: Fuan Miao) di Gubug, Kabupaten Grobogan. Adapun bangunan tampak depan kelenteng seperti gambar di bawah ini:



Sedangkan bagian ruang utamanya adalah seperti gambar di bawah ini:


Dewata-dewata yang dipuja di ruang utama antara lain adalah:

Di bagian depan terhadap Zhongtan Yuanshuai, lalu di belakangnya terdapat altar Hok Tek Tjin Sin (Fude Zhenshen).
Di bagian sampingnya terdapat altar:
Kwan Te Ya
Sam Po Tay Djien
Kiu Tian Ming Tjiauw
dan lain-lain.



Rupang Dewa Kiu Tian Ming Tjiauw



Rupang Dewa Zhongtan Yuanshuai.

Sedangkan di bagian samping kanan terdapat ruang altar bagi Trinabi, yakni Buddha, Laozi, dan Kongzi. Ada pula altar bagi Dewa Jing Cui Co Soe Kong.
Di bagian samping kanan terdapat ruang altar bagi Avalokitesvara (Guanyin Busa). Selain itu masih ada pula altar bagi Tee Bo (Mandarin: Dimu).

Menurut penuturan dari penjaga bio yang menarik di sini adalah altar bagi Avalokitesvara Bodhisattva, dulunya dipergunakan sebagai altar bagi Yesus dan Bunda Maria. Namun kedua rupang tersebut kini telah dipindahkan ke Gua Maria Kerep.
Kelenteng ini tidak begitu besar, dan waktu saya berkunjung ke sana dalam keadaan sepi.

Jumat, 05 Oktober 2012

THIAN SIANG SENG BO (MA CO PO) KIU KHO CIN KENG (KITAB SUCI TIANSHANG SHENGMU)

THIAN SIANG SENG BO (MA CO PO) KIU KHO CIN KENG


Disarikan oleh Ivan Taniputera

06 Oktober 2012. 







Saya baru-baru ini mendapatkan keng (Mandarin: jing) tentang Tianshang Shengmu yang terkenal sebagai pelindung para pelaut dan salah satu dewata utama rakyat Minnan. Keng dalam bentuk buku kecil ini saya dapatkan di salah sebuah kelenteng, tapi saya lupa kelenteng mana. Ada beberapa hal menarik yang ingin saya bagikan di sini, yakni tentang ritual pengusiran setan (eksorsisme) dan pertolongan Tianshang Shengmu pada Laksama Zhenghe. Sayangnya dalam keng ini tidak mencantumkan huruf Mandarin dan hanya terdapat lafal bahasa Hokkiannya saja, sehingga tidak dapat dilakukan penerjemahan lebih lanjut.


A.RITUAL PENGUSIRAN SETAN




Terdapat keterangan di halaman 16:

"Tiga bentuk hu di bawah ini untuk mengobati orang sakit lantaran kena "SETAN." Ambil air semangkok dan tulis dengan jari telunjuk.
Sambil membaca keng di bawah ini:

Hu Tau Cin Jin, Kam Eng Hoa Seng.
It Hu It Sui, Kiu Ce Ban Bin,
Ti Cay Ki Ciang. Eng Po An Leng.
Kip Kip Ji Lut Leng

Air hu itu boleh diminum dan diusapkan di badan pasien sambil membaca keng di bawah ini:

Ce Thian Seng Boh, Poh Tauw Hang Sin.
Sam Kay Hian Cek. Pian Hay tong Leng.
Sin Tong Pian Hoa Sun. Ce Ceng Beng.
Sam Sip Ji Siang. Siang Mau toan Seng.
Sui Lam Sui eng. Ci Seng Ci Leng.
Wi Kong Hian Hek. Ho Kek Pi Bin.
Hay Hong Cwe Leng Ci Siok Hang Lim.
It Sim Ciam Giang. Hian Hian Cin Sin.
Hi Kong Cui Hian. Thong Leng Thian Peng.
Wi Sin He Heng. Kwi Hok Sin Keng.
Hu thian Hu Cu. Seng Hou Tiok Lim.
Pak Tau Tay Seng. Xi Tiok Sia Ceng.
Hau Cay San Ho. Koh Ke An Leng.
Kip Kip Ji Lut Leng.

B.PERTOLONGAN TIANSHANG SHENGMU PADA LAKSAMANA ZHENGHE.

Akan saya kutipkan dari halaman 11-12 dengan berbagai perbaikan:

Sedemikian besar kepercayaan para nelayan terhadap kebesaran dan kesaktian Ma Zu (Tianshang Shengmu) atas keselamatan mereka di lautan teduh, sehingga di atas setiap kapal juga disediakan patung pemujaan. Demikianlah yang terjadi pada pelaut terbesar di zaman dinasti Ming, laksamana Zheng He (The Ho) yang memimpin 62 armada pelayaran muhibah ke Nusantara. Tujuh kali Zheng He berhasil memimpin kunjungan muhibahnya ke  belasan negeri di Asia dan Afrika. Beliau senantiasa memimpin upacara sembahyang memohon perlindungan dan keselamatan kepada Mazu.

Pada tahun ketujuh pemerintahan Kaisar Yong Le (1409), yakni dalam pelayaran Beliau ketiga, Zheng He menyempatkan diri singgah di Pulau Mei-chou serta mengadakan upacara sembahyang di kelenteng Mazu. Sampai sekarang, prasasti peninggalan Zheng He masih terdapat di Zhan-le, Provinsi Fujian (Hokkian). Prasasti tersebut menerangkan secara rinci keselamatan pelayaran-pelayaran mereka itu adalah berkat kemukjizatan Tianshang Shengmu. Mengenang perlindungan Tiangshang Shengmu itulah, Kaisar Yongle lantas menganugerahkan gelar "Tian Fei" berkat keberhasilan misi muhibah Laksamana Zheng He.

Minggu, 26 Agustus 2012

Riwayat Mbah Jugo

Riwayat Mbah Jugo



Ivan Taniputera
27 Agustus 2012



Mbah Jugo merupakan tokoh yang terkenal pada situs keramat Gunung Kawi yang banyak dikunjungi baik etnis Tionghua, Jawa, maupun etnis lainnya. Meskipun demikian, banyak yang belum mengenal riwayat Beliau. Berikut ini saya akan menuturkan secara singkat riwayat Beliau.

Mbah Juga masih merupakan keturunan Susuhunan Paku Buwono I (Pangeran Puger) yang memerintah Mataram antara 1705-1719. Beliau berputera Bandono Pangeran Haryo (BPH) Diponegoro (bukan Pangeran Diponegoro yang mencetuskan Perang Diponegoro 1825-1830).
BPH Diponegoro berputera Kanjeng Kyai Zakaria I, yang merupaka seorang ulama besar di kraton Kartasura.
Kanjeng Kyai Zakaria I berputera Raden Mas Soeryokoesoemo atau Raden Mas Soeryodiatmodjo. Semenjak muda, ia telah tertarik mempelajari pengetahuan keagamaan. Atas restu Susuhunan Paku Buwono II, Beliau lantas mengubah namanya, yakni nunggak semi dengan nama ayahnya. Oleh karena itu, Beliau lantas dikenal sebagai Kyai Zakaria II.

Catatan: Nunggak semi adalah tradisi Jawa yang menggunakan nama sama dengan ayah.

Kyai Zakaria II lantas mengembara ke Jawa Timur dan menyamar sebagai rakyat biasa demi menghindarkan diri dari Belanda yang pengaruhnya semakin besar di istana. Nampaknya Kyai Zakaria II juga merupakan tokoh yang anti penjajah.
Rute pengembaraan Kyai Zakaria II adalah sebagai berikut: Yogyakarta-Sleman-Nganjuk-Bojonegoro-Blitar. Namun begitu tiba di Blitar, Kyai Zakaria II kurang menyukai kawasan tersebut karena berdekatan dengan kadipaten yang dikuasai Belanda. Beliau lantas pindah lagi ke Kesamben, 60 km dari Blitar. Demikianlah, Kyai Zakaria II latas menetap di tepi Sungai Brantas, desa Sonan, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar. Di sana Beliau berjumpa dengan Pak Tosiman yang menanyakan asal usulnya. Karena khawatir kehadirannya terbongkar dan diketahui oleh Belanda, maka Beliau menjawab, "Kulo niki sajugo" (Saya ini sendirian). Pak Tosiman salah sangka, dan mengira bahwa nama Beliau adalah Sayugo. Itulah sebabnya Kyai Zakaria II lantas dikenal dengan sebutan Mbah Jugo.


Beliau semakin lama semakin terkenal dan dihormati oleh masyarakat, baik karena pengetahuan agama, ilmu, maupun kesediaan Beliau menolong sesama. Ini adalah salah satu wujud pertolongan Beliau:

"Pada suatu ketika terjadi wabah penyakit hewan di desa Sonan pada tahun 1860. Masyarakat panik karena penguasa Belanda tidak mampu mengatasi. Akhirnya dengan keampuhan ilmu Mbah Jugo, wabah penyakit tersebut berhasil disingkirkan dan masyarakat semakin hormat pada Mbah Jugo. Namanya semakin kondang dan ia melayani berbagai konsultasi dari masyarakat. Dari soal jodoh, bertanam, beternak, bahkan sampai soal dagang yang menguntungkan, semuanya dilayani dengan memuaskan." (halaman 19).

Pada tahun 1871, Raden Mas Iman Soedjono (siswa dan penerus Mbah Jugo) bersama rakyat membuka hutan di daerah Gunung Kawi, Malang. Beliau lalu membuka padepokan di Wonosari. Pada tahun itu pula, atau tepatnya 22 Januari 1871, Mbah Jugo wafat di Kesamben, Blitar. Sesuai wasiat Beliau, jenazah Mbah Jugo dimakamkan di Wonosari, lereng Gunung Kawi, yang ketika itu telah telah menjadi suatu perkampungan. Padepokan yang ditinggalkan Beliau di Kesamben kemudian dikelola oleh para siswa Beliau, seperti Ki Tasiman, Ki Dawud, dan lain sebagainya.

Sumber: Budaya Spiritual Dalam Situs Keramat di Gunung Kawi Jawa Timur, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994/ 1995. Tim peneliti: Dr. Tashadi, Drs. Gatut Murniatmo, Drs. Sumantarsih. Penyunting: Dra. Wiwik Pratiwi MA.

Selasa, 03 Januari 2012

Mahamayuri


Dalam Mahamayuri Dharani Sutra dikisahkan mengenai seorang bhikshu yang sekarat karena digigit ular berbisa. Ananda memohon pada Buddha agar menolong bhikshu tersebut. Demi menanggapi permohonan Ananda, Buddha mengajarkan Dharma Mahamayuri, sehingga bhikshu yang digigit ular dapat terbebas dari bahaya. Mahamayuri digambarkan sedang menunggang merak.

Kamis, 07 Juli 2011

Kuil Taishangguan-Salah Satu Kuil Daois di Semarang

Kuil Taishangguan terletak di Kompleks Perumahan Tanah Mas merupakan salah satu kuil Daois di Semarang. Pujaan utamanya adalah Mahadewa Taishanglaojun (Laozi) yang merupakan pendiri Daoisme. Beliau dipercaya sebagai penulis Kitab Daodejing.

Kamis, 30 Desember 2010

Dewa Yue Xia Lao Ren

Dewa Yue Xia Lao Ren

Ivan Taniputera
(30 Desember 2010)

Iseng2 ingin menulis mengenai dewa-dewa Tiongkok. Yue Xia Lao Ren secara
harafiah berarti "Orang Tua Di Bawah Rembulan." Beliau dipercaya sebagai dewa
yang mengatur pernikahan. Meskipun demikian, tiada seorangpun yang mengenal nama
asli Beliau.

Alkisah pada zaman Dinasti Tang terdapat seseorang yang bernama Wei Gu. Suatu
malam, ia sedang menginap di sebuah pondokan di kota Song. Ketika sedang
sendirian berjumpalah ia dengan seorang tua berambut dan berjanggung putih yang
membawa tas hijau beserta sejilid buku. Didera oleh rasa penasaran, Wei Gu
menghampiri orang tua itu dan mengajukan pertanyaan. Orang tua itu menjawab
bahwa ia sedang memeriksa daftar pernikahan umat manusia di muka bumi.

Ternyata tas hijau orang tua itu berisikan tali-tali berwarna merah. Wei Gu
yang ingin tahu menanyakan apakah gunanya benda tersebut. Orang tua itu menjawab
bahwa tali-tali itu akan dipergunakan mengikat pasangan-pasangan yang saling
berjodoh. Mendengarnya, Wei Gu menjadi ingin tahu siapakah jodohnya. Orang tua
itu menjawab, "Jodohmu adalah puteri seorang ibu tua bernama Chen yang berkeja
sebagai penjual sayur di utara pondokan ini."

Tak terasa empat belas tahun berlalu dan Wei Gu diangkat sebagai pejabat kota
Xiang. Gubernur setempat bermarga Wang memberikan puterinya agar dinikahi oleh
Wei Gu. Setelah acara pernikahan, Wei Gu teringat ramalan orang tua itu dan
tertawa, "Apa yang dikatakannya omong kosong belaka."

Namun setelah pernikahan mereka, isterinya mengaku bahwa dirinya sesungguhnya
adalah puteri Nyonya Chen, si pedagang sayur, yang diangkat anak oleh Gubernur
Wang. Wei Gu tercengang dan tertawa lebar, "Ah ternyata apa dikatakannya sungguh
tepat." Magistrat kota mendengar perihal tersebut dan menamakan pondokan tempat
Wei Gu menginap sebagai "Pondokan Perjodohan." Semenjak saat itu, orang tua
tersebut dipuja sebagai Yue Xia Lao Ren.

disarikan dari buku "100 Chinese Gods" karya Wu Luxing, ilustrator: Lu
Yangguang.

"Semoga setiap orang mendapatkan jodoh yang baik."

MAKNA PATUNG DEWA YANG RUBUH

MAKNA PATUNG DEWA YANG RUBUH. . Ivan Taniputera. 17 April 2020. . . Kemarin, atau tepatnya tanggal 16 April 2020, s...