Selasa, 26 Februari 2013

TAKDIR VERSUS CISWA: SEBUAH RENUNGAN DARI KISAH THO HWA LI

TAKDIR VERSUS CISWA: SEBUAH RENUNGAN DARI KISAH THO HWA LI

Ivan Taniputera
27 Februari 2013

Dalam perjalanan ke delapan kelenteng beberapa waktu yang lalu, saya menemukan buku kisah Tho Hwa Li buah karya Gan KH ini. Sebenarnya saya sudah pernah mendengar mengenai kisah Tho Hwa Li semenjak masih kecil dan edisi lama buku ini saya sudah punya, namun kini tidak tahu lagi di mana keberadaannya. Oleh karenanya, penemuan kembali buku ini di salah sebuah kelenteng yang saya kunjungi merupakan peristiwa berharga. Kisah-kisah dalam tradisi Tiongkok memang sarat makna dan filsafat pemikiran.


Secara umum, dalam buku tersebut ada hal-hal menarik, seperti asal muasal tradisi ritual pengantin yang masih dilaksanakan hingga hari ini dan takdir versus ciswa. Kita akan mengulasnya satu persatu.

1.TAKDIR VERSUS CISWA

Sebelum mengulas mengenai topik bahasan ini. Saya akan memaparkan latar belakang kisahnya secara singkat. Ciu Kong adalah seorang mantan pembesar di masa pemerintahan Kaisar Ciu Yu Ong (781 SM) dari dinasti Ciu (Mandarin: Chou). Karena kaisar ke-12 ini hanya gemar bersenang-senang saja bersama selirnya bernama Po Su, Ciu Kong lantas mengundurkan dirinya. Sebenarnya Ciu Kong ini bukanlah nama pembesar tersebut. Namanya tidak disebutkan dalam buku ini. Ciu Kong adalah gelar yang dianugerahkan oleh Kaisar Yu Ong, sewaktu pembesar tersebut mengundurkan dirinya guna pulang ke desa. Arti telar itu adalah "Sesepuh Marga Ciu." (lihat halaman 3). Selain pemberian gelar kehormatan, Ciu Kong mendapatkan pula anugerah berupa pedang bernama Sian-cam-ho-cau (Bunuh Dulu Urusan Belakang). Ini menandakan bahwa pemegang pedang tersebut memiliki kekuasaan luar biasa.
Ciu Kong yang telah mengundurkan dirinya lantas membuka profesi sebagai juru ramal. Uniknya Ciu Kong akan memberikan ganti rugi yang besar jika ramalannya meleset (tiga ratus lima puluh tahil perak-halaman 6). Meskipun demikian, biaya meramalnya cukup rendah, yakni "tiga tahil setengah uang perak." (halaman 5). Dalam sehari, ia hanya menerima tiga orang saja yang hendak diramal. Sebagai juru penerima tamu, Ciu Kong mengangkat mantan juru tulisnya bernama Peng Cian.
Ramalan Ciu Kong memang terbukti keakuratannya. Kendati demikian dua kali ramalan Ciu Kong meleset, yakni:

a.Putera seorang nenek bernama Li Kho-cwan (halaman 16) yang diramal akan meninggal. Berkat kias yang diberikan Tho Hwa Li, nyawanya berhasil diselamatkan. Tho Hwa Li adalah gadis sakti yang pandai menciptakan beraneka macam kias. Caranya adalah bersembahyang dengan tiga batang dupa saat sore hari, lalu mengambil bantal anaknya, menepuk tiga kali pada bantal disertai seruan keras memanggil anaknya. Singkat cerita, memang kias atau penangkal ini terbukti kemanjurannya.

b.Peng Cian sendiri diramalkan akan meninggal oleh Ciu Kong. Namun Tho Hwa Li berhasil menyelamatkannya, yakni menyuruh Peng Cian menanti kehadiran Delapan Dewa di sebuah kuil. Ternyata usia Peng Cian dapat ditambah 80 tahun.

Kegagalan ramalannya ini menggusarkan hati Ciu Kong yang merasa otorita-nya tertantang. Ia lalu mencari cara membunuh Tho Hwa Li yang akan kita uraikan belakangan.

Kini kita akan mendiskusikan terlebih dahulu makna kisah ini. Tentu saja sebuah kisah dapat dimakna berbeda-beda bagi masing-masing orang. Kendati demikian saya lebih cenderung memaknainya berdasarkan pertanyaan klasik "Apakah nasib dapat diubah?" Ini adalah sebuah pertanyaan yang telah hadir semenjak zaman yang amat lampau. Sepanjang sejarahnya agama dan filsafat telah berupaya memberikan jawaban bagi hal ini, sehingga kita dapat menjumpai banyak teori tentangnya. Namun, semuanya itu akan tetap menjadi sebuah "hipotesa" yang tidak dapat kita buktikan kebenarannya. Mengapa? Karena kita tidak memiliki mesin waktu. Sebuah hipotesa baru akan terbukti jika sudah diuji dengan sebuah eksperimen. Jadi secara sederhana adalah sebagai berikut. Seorang melakukan tindakan A hingga akhirnya mendapatkan B. Namun kita tidak tahu, jika tidak melakukan A, apakah ia akan tetap mendapatkan B. Dalam kehidupan nyata, memang terdapat kasus-kasus di mana seseorang telah berupaya, namun tidak memperoleh hasil yang diharapkan. Sebaliknya, ada juga orang tidak berusaha, tetapi malah mendapatkan sesuatu yang diharapkannya. Karena kita tidak mampu mengujinya, pertanyaan apakah "nasib dapat diubah" akan tetap menjadi misteri umat manusia sampai ditemukannya mesin waktu; yakni satu-satunya alat yang dapat dipergunakan menguji berbagai kemungkinan pararel dalam kehidupan manusia. Untuk lebih jelasnya, pembaca dapat menonton film "Butterfly Effect." Apakah ciswa itu benar dapat mengubah nasib? Pertanyaan ini juga mustahil dijawab. Namun kisah di atas mencerminkan pertanyaan klasik tersebut, yakni takdir versus ciswa.

2.RITUAL-RITUAL UPACARA PERNIKAHAN TIONGHOA

Demi membalaskan dendamnya pada Tho Hwa Li, Ciu Kong lantas melakukan suatu tindakan yang agak eksentrik. Dia hanya memiliki seorang puteri bernama Ciu He Lian, namun agar dapat "membunuh" Tho Hwa Li, ia lantas "menikahkan" puterinya itu dengan Tho Hwa Li. Tentu saja sebelumnya sang puteri akan dirias sebagai pengantin pria. Ciu Kong memilihkan hari paling buruk, yang disebut Thian pia jit. Itu merupakan hari paling buruk bagi pengantin wanita. Banyak bahaya yang menanti, sehingga akan mengancam nyawa sang mempelai wanita. Berikut ini adalah bahaya beserta penangkalnya.

a.Pada hari itu saat mempelai wanita keluar dari rumahnya sendiri, dua bintang jahat, yakni Thian-sat dan Thian sin, telah siap menghantamnya, sehingga pengantin wanita mendadak jatuh tersungkur dan meninggal seketika.

PENANGKAL: Tho Hwa Li bersembahyang pagi-pagi sebelum matahari terbit, guna mengundang kehadiran dewa Liok ting Thai-sin dan Liok tha Thai sin, yang bertugas menjaga keamanan langit, sehingga sanggup mengusir Thian-sat dan Thian-sin.

b.Saat mempelai wanita telah duduk dalam tandu, bintang Ceng-liong ce (Naga Hijau) dan Pek-hou ce (Macan Putih) telah siap mencabut nyawanya.

PENANGKAL: Ceng-liong ce paling takut dengan kilin, sedangkan Pek-hou ce takut dengan burung hong (funiks). Oleh karenanya, Tho Hwa Li menempelkan kertas merah bertuliskan warna emas, yang masing-masing berbunyi "KI LIN TO CU" dan "HONG HONG TO CU." Artinya adalah "Kilin berada di sini" dan "Burung hong merah ada di sini." Dengan demikian Naga Hijau dan Macan Putih kebur ketakutan.

c.Begitu tandu tiba di rumah mempelai pria, bintang Ceng-liong ce yang gagal membunuh pengantin wanita akan kembali beraksi, sehingga mempelai wanita bisa menemui ajalnya.

PENANGKAL: Melepaskan tiga batang anak panah, sehingga Ceng-liong ce lari ketakutan.

d.Begitu mempelai wanita memasuki rumah pengantin pria, bintang Thian Kau-ce (Kera Langit) telah siap mencekiknya.

PENANGKAL: Dengan menaburkan beras kuning, sehingga Kera Langit lari ketakutan. Beras kuning itu dipercaya mampu membutakan mata Kera Langit.

e.Bintang Ngo-kui-ce (Lima Setan) telah siap menanti di balik pintu rumah Ciu Kong dan siap menerjang serta menghabisi nyawa Tho Hwa Li.

PENANGKAL: Menggunakan niru sebagai payung yang telah digambari pat kwa. Dengan demikian, Lima Setan tidak berani mendekat dan menyingkir jauh-jauh.

f.Saat kedua mempelai duduk bersama di dalam kamar pengantin guna bersantap bersama, bintang Pek-hou ce akan datang lagi dan menghantam mempelai wanita sampai tewas.

PENANGKAL: Tidak ada penangkalnya, tetapi Tho Hwa Li tidak kehilangan akal. Ia pura-pura pusing dan berbaring di ranjang pengantin. Akibatnya hanya Ciu He Lian yang duduk sendirian di depan meja pengantin. Meskipun berdandan sebagai pengantin wanita, bintang Peh-hou ce tidak dapat ditipu. Ia lantas menghantam puteri Ciu Kong tersebut hingga tewas.

Dengan demikian, justru Ciu Kong yang kehilangan puterinya. Dendamnya pada Tho Hwa Li semakin bertambah.

Kisah di atas mencerminkan sebuah ajaran bahwa manusia hendaknya senantiasa berupaya memperbaiki keadaan. Meski benar bahwa kita tidak mengetahui apakah takdir dapat diubah atau tidak. Namun berusaha menciptakan sesuatu yang lebih baik adalah lebih baik ketimbang tidak berusaha sama sekali.

3.EPILOG

Ciu Kong mencari cara lain dalam membunuh Tho Hwa Li. Ia lantas mengetahui rahasia kelemahan Tho Hwa Li, yakni ranting pohon Tho tumbuh di halaman rumah Tho Hwa Li yang menjulur ke penjuru barat. Ciu Kong meminta potongan dahan tersebut pada Tho Wan Gwe, yakni ayah Tho Hwa Li, dengan alasan bahwa benda tersebut akan dipakai sebagai wahana penujuman. Benar saja setelah ranting pohon itu dipotong, kesehatan Tho Hwa Li semakin menurun dan akhirnya sakit parah. Sebelum meninggal, Tho Hwa Li berpesan pada Peng Cian, yang pernah ditolongnya, agar membenturkan peti jenazahnya saat hendak diangkut keluar dari rumah Ciu Kong. Permintaan ini dilaksanakan, dan ajaibnya Tho Hwa Li hidup kembali. Terjadi perang tanding dengan Ciu Kong. Ternyata Ciu Kong adalah jelmaan pedang dewa, sedangkan Tho Hwa Li adalah jelmaan sarungnya. Kedua pedang itu sebelumnya adalah milik Dewa Hian Thian Siang Tee (Siang Tee Kong) sewaktu Beliau masih bertapa di Bu-tong-san. Karena memperoleh Jit Gwat jing (sari murni matahari dan rembulan), akhirnya pedang beserta sarungnya berubah menjadi manusia. Saat tengah bertarung, keduanya lantas ditangkap oleh Dewa Hian Thian Siang Tee dan diubah kembali menjadi pedang dan sarungnya.Demikianlan akhir kisah menarik tersebut.

Epilog di atas nampaknya menandakan bahwa meskipun bertentangan, keduanya merupakan kedua hal saling melengkapi dalam tradisi Tionghoa, ibarat pedang beserta sarungnya. Pedang tanpa sarung juga tidak berguna dan bisa melukai sang pemilik pedang. Sarung saja tanpa pedang juga tidak berguna, karena tak dapat melindungi seseorang.

Minggu, 17 Februari 2013

TRADISI MENGUNJUNGI DELAPAN KELENTENG SETELAH TAHUN BARU IMLEK (Tradition of Visiting Eight Temples After Chinese New Year)


TRADISI MENGUNJUNGI DELAPAN KELENTENG SETELAH TAHUN BARU IMLEK
Tradition of Visiting Eight Temples After Chinese New Year

Ivan Taniputera
17 Februari 2013

Di tengah-tengah keluarga saya terdapat tradisi mengunjungi delapan kelenteng setelah Tahun Baru Imlek. Adapun kunjungan itu sedapat mungkin dilakukan dalam sehari dan ritual ini boleh dilakukan hingga tanggal 15 bulan pertama Imlek (Capgomeh). Pada hari ini saya dalam sehari melakukan kunjungan ke delapan kelenteng/ vihara sebagai berikut:

1.VIHARA MAHA WELAS ASIH

Vihara ini berada di kompleks Perumahan Tanah Mas atau tepatnya berada di Jalan Taman Hasanudin.

Berikut ini adalah ruang kebaktian Vihara Maha Welas Asih:




Di vihara juga terdapat pratima yang mewakili keenam puluh dewa penguasa tahun berlaku (太歲 Taisui).




2.KELENTENG HAO SHENG GONG (昊聖宮)

Tidak jauh dari Vihara Maha Welas Asih terletak Kelenteng Hao Sheng Gong, yang bercorak Daoisme.

Tampak luarnya adalah sebagai berikut:



Dewata utama di kelenteng ini adalah 無極洪鈞聖祖 (Wújí hóngjūn shèngzǔ).



Penulis juga baru pertama kali mendengar nama dewa ini. Menurut keterangan penjaga kelenteng, Beliau adalah guru Laozi atau Taishang Laojun.

Berikut ini adalah pratima dewata-dewata Daois yang dipuja dalam kelenteng.



Selain itu, terdapat pula makhluk-makhluk suci yang berasal dari Buddhisme.



Kini penulis akan menampilkan interior bagian dalam kelenteng:



3.KELENTENG TAI SHANG GONG (太上宮)

Kunjungan dilanjutkan ke Kelenteng Tai Shang Guan yang juga bercorak Daoisme. Makhluk suci utamanya adalah Taishang Laojun yang merupakan gelar bagi Laozi.



Berikut ini adalah pratima Taishang Laojun:




Penulis juga mendapati pratima Tju Soe Nyo Nyo, yang juga baru pertama kali ini melihatnya.



Berikut ini adalah gambar pratima yang terdapat di bagian bawah altar Taishang Laojun.



Terdapat pula gambar Lima Jenderal pada salah satu altar di kelenteng ini.



Inilah adalah gambar-gambar dewa pintu di Kelenteng Tai Shang Gong.






4.KELENTENG JING DE MIAO (敬德廟)

Kelenteng ini terletak di Jalan Lingkar Tanjung Mas, yang juga masih masuk kompleks Perumahan Tanah Mas.



Dewata utama yang dipuja di kelenteng ini adalah Oet Ti Kiong, yang merupakan salah satu tokoh terkemuka dalam Hikayat Sie Djin Koei.




Di bagian belakang kelenteng terdapat pula pratima keenam puluh dewa Taisui.




Kita dapat menyaksikan pula pratima Ayah dan Bunda Bumi.




Berikut ini adalah sekelumit kegiatan mempersiapkan persembahyangan yang sedianya akan diselenggarakan pada hari ini juga di Kelenteng Jing De Miao



5.KELENTENG GUAN SHENG MIAO (關聖廟)

Terletak di Jalan Kali Mas, yang masih juga masuk kompleks Perumahan Tanah Mas. Dewata utamanya adalah Kwan Kong (Guan Sheng Dijun)

Kita tidak dapat menyaksikan relief sumpah pengangkatan saudara antara Liu Bei, Guan Yu, dan Zhang Fei yang terkenal dari Kisah Sam Kok.



Berikut ini adalah ruang utama Kelenteng Guang Sheng Miao.



6.KELENTENG GRAJEN

Terletak di kawasan Grajen, Jl. MT. Haryono, Semarang. Dewata utamanya adalah Xuan Tian Shangdi.

Pada hari ini kelenteng sangat ramai dikunjungi umat.



Berikut ini adalah pratima-pratima dewa pintu di Kelenteng Grajen.






7.KELENTENG BUGANGAN

Terletak di Jl. Bugagan, Dr. Cipto, Semarang. Berikut ini adalah tampak depan kelenteng.




Meja sembahyangan yang telah dipersiapkan di Kelenteng Bugangan.




Perhatikan adanya tebu yang merupakan khas tradisi Hokkian.

8.VIHARA BUDDHAGAYA-WATUGONG-SEMARANG

Kunjungan ke Vihara Buddhagaya, Watugong, menutup rangkaian kunjungan hari ini. Tampak pagoda yang terkenal selaku ciri khas Vihara Buddhagaya.




Kita dapat menyaksikan pula persiapan sembahyangan di vihara ini.



Salah satu pratima Bodhisattva Avalokitesvara (Guanyin) di Vihara Buddhagaya, Watugong, Semarang.



Demikian semoga bermanfaat dan terima kasih telah mengikuti artikel ini sampai selesai.

Senin, 26 November 2012

JENDERAL WEN (溫元師 = Wen Yuanshi)


JENDERAL WEN (溫元師 = Wen Yuanshi)

Ivan Taniputera
26 November 2012
Sekali-sekali posting tentang dewa-dewi Tiongkok. Hari ini saya ingin meriwayatkan mengenai Jenderal Wen. Beliau merupakan salah satu di antara sepuluh jenderal penjaga Gunung Timur. Nama asli Beliau adalah Wen Qiong dan berasal dari Distrik Wenzhou. Beliau hidup semasa Dinasti Han. Ayah Beliau yang bernama Wen Wang merupakan seorang sarjana Konfusianis yang berhasil lulus ujian negara. Ibu Beliau bermarga Zhang.
Meski telah lama menikah Wen Wang belum juga dikaruniai seorang putera, sehingga akhirnya ia berdoa pada Dewa Bumi. Suatu malam ibunya bermimpi melihat seorang dewa berpakaian perang yang salah satu tangannya membawa mutiara. Dewa itu memperkenalkan dirinya sebagai salah seorang jenderal Kaisar Pualam dan hendak turun ke dunia guna dilahirkan oleh Nyonya Zhang. Ia menanyakan apakah Nyonya Zhang bersedia. Nyonya Zhang menyetujuinya dan tak lama kemudian hamil.
Dua belas bulan kemudian, kamar tempat Nyonya Zhang melahirkan dipenuhi oleh cahaya gemilang dan bau harum. Di tengah-tengah kondisi ajaib semacam itu, Wen Qiong dilahirkan. Saat dilahirkan, ternyata di bawah ketiak kiri bayi tersebut terdapat dua puluh empat aksara yang tak seorang pun mengetahui maknanya. Sementara itu di bawah ketiak kanannya terdapat dua belas aksara lagi, yang juga tak diketahui maknanya.
Wen Qiong tubuh menjadi seorang anak yang cerdas dan mempelajari ilmu perbintangan beserta lima ilmu Tiongkok lainnya. Selain itu, ia juga menguasai pustaka-pustaka klasik Konfusianisme. Kendati demikian, Wen Qiong gagal lulus ujian negara, yang diikutiinya pada usia 19 dan 26 tahun.
Saat menyesali hal itu, muncul seekor naga menjatuhkan sebutir mutiara, yang segera dipungut dan ditelan Beliau. Ketika naga itu melayang turun guna mengambil mutiaranya, Wen Qiong menangkap ekor naga dan memutar-mutarnya. Segera tubuhnya berubah. Ia menjadi seorang pahlawan perkasa dengan wajah hijau, rambut merah, dan kulit biru. Akhirnya naga itu berhasil dikalahkan.
Dewa Gunung Tai Shan mengenali keperkasaannya itu dan mengangkatnya menjadi salah seorang jenderal penjaga gunung. Setelah melakukan berbagai jasa besar. Kaisar Pualam mengangkatnya sebagai Dewa Keemasan Agung.
Sumber: 100 Chinese Gods, karya Lu Yangguang, halaman 101.

Minggu, 04 November 2012

SERIAL LIPUTAN KELENTENG: KUNJUNGAN KE KELENTENG HOK AN BIO (福安廟 Mandarin: Fuan Miao), GUBUG, KABUPATEN GROBOGAN, JAWA TENGAH

SERIAL LIPUTAN KELENTENG: KUNJUNGAN KE KELENTENG HOK AN BIO (福安廟 Mandarin: Fuan Miao), GUBUG, KABUPATEN GROBOGAN, JAWA TENGAH

Ivan Taniputera
4 November 2012

Pada hari ini saya mengunjungi Kelenteng Hok An Bio (福安廟, Mandarin: Fuan Miao) di Gubug, Kabupaten Grobogan. Adapun bangunan tampak depan kelenteng seperti gambar di bawah ini:



Sedangkan bagian ruang utamanya adalah seperti gambar di bawah ini:


Dewata-dewata yang dipuja di ruang utama antara lain adalah:

Di bagian depan terhadap Zhongtan Yuanshuai, lalu di belakangnya terdapat altar Hok Tek Tjin Sin (Fude Zhenshen).
Di bagian sampingnya terdapat altar:
Kwan Te Ya
Sam Po Tay Djien
Kiu Tian Ming Tjiauw
dan lain-lain.



Rupang Dewa Kiu Tian Ming Tjiauw



Rupang Dewa Zhongtan Yuanshuai.

Sedangkan di bagian samping kanan terdapat ruang altar bagi Trinabi, yakni Buddha, Laozi, dan Kongzi. Ada pula altar bagi Dewa Jing Cui Co Soe Kong.
Di bagian samping kanan terdapat ruang altar bagi Avalokitesvara (Guanyin Busa). Selain itu masih ada pula altar bagi Tee Bo (Mandarin: Dimu).

Menurut penuturan dari penjaga bio yang menarik di sini adalah altar bagi Avalokitesvara Bodhisattva, dulunya dipergunakan sebagai altar bagi Yesus dan Bunda Maria. Namun kedua rupang tersebut kini telah dipindahkan ke Gua Maria Kerep.
Kelenteng ini tidak begitu besar, dan waktu saya berkunjung ke sana dalam keadaan sepi.

Jumat, 05 Oktober 2012

THIAN SIANG SENG BO (MA CO PO) KIU KHO CIN KENG (KITAB SUCI TIANSHANG SHENGMU)

THIAN SIANG SENG BO (MA CO PO) KIU KHO CIN KENG


Disarikan oleh Ivan Taniputera

06 Oktober 2012. 







Saya baru-baru ini mendapatkan keng (Mandarin: jing) tentang Tianshang Shengmu yang terkenal sebagai pelindung para pelaut dan salah satu dewata utama rakyat Minnan. Keng dalam bentuk buku kecil ini saya dapatkan di salah sebuah kelenteng, tapi saya lupa kelenteng mana. Ada beberapa hal menarik yang ingin saya bagikan di sini, yakni tentang ritual pengusiran setan (eksorsisme) dan pertolongan Tianshang Shengmu pada Laksama Zhenghe. Sayangnya dalam keng ini tidak mencantumkan huruf Mandarin dan hanya terdapat lafal bahasa Hokkiannya saja, sehingga tidak dapat dilakukan penerjemahan lebih lanjut.


A.RITUAL PENGUSIRAN SETAN




Terdapat keterangan di halaman 16:

"Tiga bentuk hu di bawah ini untuk mengobati orang sakit lantaran kena "SETAN." Ambil air semangkok dan tulis dengan jari telunjuk.
Sambil membaca keng di bawah ini:

Hu Tau Cin Jin, Kam Eng Hoa Seng.
It Hu It Sui, Kiu Ce Ban Bin,
Ti Cay Ki Ciang. Eng Po An Leng.
Kip Kip Ji Lut Leng

Air hu itu boleh diminum dan diusapkan di badan pasien sambil membaca keng di bawah ini:

Ce Thian Seng Boh, Poh Tauw Hang Sin.
Sam Kay Hian Cek. Pian Hay tong Leng.
Sin Tong Pian Hoa Sun. Ce Ceng Beng.
Sam Sip Ji Siang. Siang Mau toan Seng.
Sui Lam Sui eng. Ci Seng Ci Leng.
Wi Kong Hian Hek. Ho Kek Pi Bin.
Hay Hong Cwe Leng Ci Siok Hang Lim.
It Sim Ciam Giang. Hian Hian Cin Sin.
Hi Kong Cui Hian. Thong Leng Thian Peng.
Wi Sin He Heng. Kwi Hok Sin Keng.
Hu thian Hu Cu. Seng Hou Tiok Lim.
Pak Tau Tay Seng. Xi Tiok Sia Ceng.
Hau Cay San Ho. Koh Ke An Leng.
Kip Kip Ji Lut Leng.

B.PERTOLONGAN TIANSHANG SHENGMU PADA LAKSAMANA ZHENGHE.

Akan saya kutipkan dari halaman 11-12 dengan berbagai perbaikan:

Sedemikian besar kepercayaan para nelayan terhadap kebesaran dan kesaktian Ma Zu (Tianshang Shengmu) atas keselamatan mereka di lautan teduh, sehingga di atas setiap kapal juga disediakan patung pemujaan. Demikianlah yang terjadi pada pelaut terbesar di zaman dinasti Ming, laksamana Zheng He (The Ho) yang memimpin 62 armada pelayaran muhibah ke Nusantara. Tujuh kali Zheng He berhasil memimpin kunjungan muhibahnya ke  belasan negeri di Asia dan Afrika. Beliau senantiasa memimpin upacara sembahyang memohon perlindungan dan keselamatan kepada Mazu.

Pada tahun ketujuh pemerintahan Kaisar Yong Le (1409), yakni dalam pelayaran Beliau ketiga, Zheng He menyempatkan diri singgah di Pulau Mei-chou serta mengadakan upacara sembahyang di kelenteng Mazu. Sampai sekarang, prasasti peninggalan Zheng He masih terdapat di Zhan-le, Provinsi Fujian (Hokkian). Prasasti tersebut menerangkan secara rinci keselamatan pelayaran-pelayaran mereka itu adalah berkat kemukjizatan Tianshang Shengmu. Mengenang perlindungan Tiangshang Shengmu itulah, Kaisar Yongle lantas menganugerahkan gelar "Tian Fei" berkat keberhasilan misi muhibah Laksamana Zheng He.

Minggu, 26 Agustus 2012

Riwayat Mbah Jugo

Riwayat Mbah Jugo



Ivan Taniputera
27 Agustus 2012



Mbah Jugo merupakan tokoh yang terkenal pada situs keramat Gunung Kawi yang banyak dikunjungi baik etnis Tionghua, Jawa, maupun etnis lainnya. Meskipun demikian, banyak yang belum mengenal riwayat Beliau. Berikut ini saya akan menuturkan secara singkat riwayat Beliau.

Mbah Juga masih merupakan keturunan Susuhunan Paku Buwono I (Pangeran Puger) yang memerintah Mataram antara 1705-1719. Beliau berputera Bandono Pangeran Haryo (BPH) Diponegoro (bukan Pangeran Diponegoro yang mencetuskan Perang Diponegoro 1825-1830).
BPH Diponegoro berputera Kanjeng Kyai Zakaria I, yang merupaka seorang ulama besar di kraton Kartasura.
Kanjeng Kyai Zakaria I berputera Raden Mas Soeryokoesoemo atau Raden Mas Soeryodiatmodjo. Semenjak muda, ia telah tertarik mempelajari pengetahuan keagamaan. Atas restu Susuhunan Paku Buwono II, Beliau lantas mengubah namanya, yakni nunggak semi dengan nama ayahnya. Oleh karena itu, Beliau lantas dikenal sebagai Kyai Zakaria II.

Catatan: Nunggak semi adalah tradisi Jawa yang menggunakan nama sama dengan ayah.

Kyai Zakaria II lantas mengembara ke Jawa Timur dan menyamar sebagai rakyat biasa demi menghindarkan diri dari Belanda yang pengaruhnya semakin besar di istana. Nampaknya Kyai Zakaria II juga merupakan tokoh yang anti penjajah.
Rute pengembaraan Kyai Zakaria II adalah sebagai berikut: Yogyakarta-Sleman-Nganjuk-Bojonegoro-Blitar. Namun begitu tiba di Blitar, Kyai Zakaria II kurang menyukai kawasan tersebut karena berdekatan dengan kadipaten yang dikuasai Belanda. Beliau lantas pindah lagi ke Kesamben, 60 km dari Blitar. Demikianlah, Kyai Zakaria II latas menetap di tepi Sungai Brantas, desa Sonan, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar. Di sana Beliau berjumpa dengan Pak Tosiman yang menanyakan asal usulnya. Karena khawatir kehadirannya terbongkar dan diketahui oleh Belanda, maka Beliau menjawab, "Kulo niki sajugo" (Saya ini sendirian). Pak Tosiman salah sangka, dan mengira bahwa nama Beliau adalah Sayugo. Itulah sebabnya Kyai Zakaria II lantas dikenal dengan sebutan Mbah Jugo.


Beliau semakin lama semakin terkenal dan dihormati oleh masyarakat, baik karena pengetahuan agama, ilmu, maupun kesediaan Beliau menolong sesama. Ini adalah salah satu wujud pertolongan Beliau:

"Pada suatu ketika terjadi wabah penyakit hewan di desa Sonan pada tahun 1860. Masyarakat panik karena penguasa Belanda tidak mampu mengatasi. Akhirnya dengan keampuhan ilmu Mbah Jugo, wabah penyakit tersebut berhasil disingkirkan dan masyarakat semakin hormat pada Mbah Jugo. Namanya semakin kondang dan ia melayani berbagai konsultasi dari masyarakat. Dari soal jodoh, bertanam, beternak, bahkan sampai soal dagang yang menguntungkan, semuanya dilayani dengan memuaskan." (halaman 19).

Pada tahun 1871, Raden Mas Iman Soedjono (siswa dan penerus Mbah Jugo) bersama rakyat membuka hutan di daerah Gunung Kawi, Malang. Beliau lalu membuka padepokan di Wonosari. Pada tahun itu pula, atau tepatnya 22 Januari 1871, Mbah Jugo wafat di Kesamben, Blitar. Sesuai wasiat Beliau, jenazah Mbah Jugo dimakamkan di Wonosari, lereng Gunung Kawi, yang ketika itu telah telah menjadi suatu perkampungan. Padepokan yang ditinggalkan Beliau di Kesamben kemudian dikelola oleh para siswa Beliau, seperti Ki Tasiman, Ki Dawud, dan lain sebagainya.

Sumber: Budaya Spiritual Dalam Situs Keramat di Gunung Kawi Jawa Timur, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994/ 1995. Tim peneliti: Dr. Tashadi, Drs. Gatut Murniatmo, Drs. Sumantarsih. Penyunting: Dra. Wiwik Pratiwi MA.

Selasa, 03 Januari 2012

Mahamayuri


Dalam Mahamayuri Dharani Sutra dikisahkan mengenai seorang bhikshu yang sekarat karena digigit ular berbisa. Ananda memohon pada Buddha agar menolong bhikshu tersebut. Demi menanggapi permohonan Ananda, Buddha mengajarkan Dharma Mahamayuri, sehingga bhikshu yang digigit ular dapat terbebas dari bahaya. Mahamayuri digambarkan sedang menunggang merak.

MAKNA PATUNG DEWA YANG RUBUH

MAKNA PATUNG DEWA YANG RUBUH. . Ivan Taniputera. 17 April 2020. . . Kemarin, atau tepatnya tanggal 16 April 2020, s...